Penulis : Abu Siri

Talitha Media, Banyak orang yang beranggapan bahwa kehadiran Islam di Bali terjadi beberapa tahun yang lalu, namun fakta sejarah dari beberapa literatur dan prasasti yang ada Islam masuk di Bali sudah terjadi sejak abad ke 13 – 14 M.
Agama Islam masuk ke pulau Bali sejak jaman kejayaan kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke 13-14 M.
Pada saat Raja Gelgel ke I Dalem Ketut Ngelesir yang memerintah (1380-1460 M) mengadakan kunjungan ke keraton Majapahit untuk bertemu dengan Raja Hayam Wuruk. Saat itu Raja Hayam Wuruk sedang mengadakan konferensi kerajaan seluruh Nusantara. Konferensi itu merupakan konferensi tahunan dengan kerajaan bawahan yang berada di berbagai daerah Indonesia.
Sebagai bentuk kepatuhan terhadap kerajaan Majapahit yang berada di Mojokerto Raja Gelgel Dalem Ketut Ngelasir mengikuti konfrensi Kerajaan se Nusantara. Setelah acara tersebut selesai, Dalem Ketut Ngelesir pulang ke kerajaan Gelgel di Bali. Kembalinya Dalem Ketut Ngelesir ke kerajaannya dengan diantar oleh empat puluh orang dari Majapahit sebagai pengiring, dua di antaranya adalah Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil bersama 40 orang pengiring dari Majapahit.
Di dalam Kerajaan Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel.
Setelah tiba di Gelgel mereka menempati satu pemukiman dan membangun masjid yang diberi nama Masjid Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadah umat Islam tertua di Pulau Bali. Ini menjadi sejarah penting peristiwa masuknya Islam di Bali yang berpusat di kerajaan Gelgel Bali. Dari sinilah sejarah mencatat bahwa bahwa Islam masuk di Bali pada abad ke 13 – 14 M. Di Kerajaan Gelgel Bali Raden Modin dan Kiai Jalil menjadi tokoh utama tokoh utama yang berperan dalam penyebaran umat Islam di Bali. Pada saat itu, mereka ini menetap cukup lama tinggal di pusat kerajaan Gelgel Klungkung. Namun dalam perkembangannya mereka meninggalkan Gelgel menuju ke arah timur dan berhenti di desa Banjar Lebah.
Di Banjar Lebah ini Raden Modin menetap dan tidak melanjutkan perjalanan, sedang Kiai Jalil tetap meneruskan perjalanan sampai di desa Saren sampai meninggal di desa tersebut. Beliau meninggalkan tulisan Kitab Suci Al Quran dan sebuah bedug yang sekarang kondisinya sudah mengalami kerusakan. Perbedaan masuknya Islam di Bali dengan daerah lainnya.
Masuknya Islam di Bali berbeda dengan masuknya Islam di jawa. Sejak awal kedatangan Islam di jawa memang dakwah untuk penyebaran agama Islam. Penyebaran Islam di Bali cenderung tidak terorganisir layaknya di pulau Jawa. Keberadaan Islam di Bali, para tokoh-tokoh Muslim kala itu tidak pernah melakukan komunikasi
antardaerah. Semisal tokoh Muslim yang ada di Jembrana tidak pernah melakukan kumunikasi dengan Muslim di Buleleng, Badung, Karangasem, dan kantong-kantong Muslim seluruh Bali.
Hal inilah yang mungkin bagi keberadaan Islam di Bali, yang telah ratusan tahun ada di Bali, tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Salah satu sebabnya karena penyebaran Islam di Bali hanya menggunakan satu cara, yakni dengan penyebaran Islam secara kultural.
Selain itu, para penguasa di berbagai kerajaan di Bali saat itu menerapkan politik karantinaisasi bagi penduduk Islam. Ada beberapa alasan kenapa Raja-Raja menerapkan politik karantinaisasi, yakni :
Pertama, mencegah timbulnya konflik antara orang Islam dan orang Bali yang disebabkan oleh latar belakang perbedaan Agama dan kebudayaan.
Kedua, meminimalisir kemungkinan adanya Islamisasi yang dilakukan oleh orang Islam terhadap orang Bali.
Ketiga, memberikan rasa aman secara sosiologis, kultural, keagamaan, dan psikologis sebab dalam perkampungan yang berpola karantinaisasi mereka dapat mengembangkan identitasnya secara bebas tanpa didominasi maupun dihegomoni oleh etnik Bali.
Keempat, etnik Bali Hindu yang ada di sekitarnya bisa mempertahankan identitasnya, tanpa ada perasaan dirongrong oleh orang Islam. (Nengah Bawa Atmajda, 2010) Secara tidak langsung, dengan penerapan politik karantinaisasi, benturan konflik antar agama dapat dihindari, sehingga muncul istilah Nyamaslam, sebutan orang Hindu Bali kepada penduduk Islam, yang menganggap orang Islam adalah saudara, bukan musuh. Istilah nyamaslam terus bertahan sampai sekarang, hal ini dapat mempererat persaudaraan yang ada di Bali. Islam telah ada di Bali sejak Raja Gelgel ke I Dalem Ketut Ngelesir yang memerintah (1380-1460 M), dengan demikian Sejarah membuktikan bahwa Agama Islam masuk di Bali pada abad ke 13 – 14 M.
Sejarah masuknya islam di Buleleng Bali Islam masuk ke Buleleng, Bali, diperkirakan dimulai sekitar abad ke-16 atau ke-17 (sekitar 1587-1648), yang erat kaitannya dengan kebijakan toleransi Raja Buleleng, khususnya I Gusti Anglurah Panji Sakti. Penyebaran dilakukan melalui pedagang Bugis/Jawa/Madura, prajurit kerajaan, dan pendirian kampung Muslim seperti Desa Pegayaman oleh laskar muslim.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah masuknya Islam di Buleleng:
• Peran Raja Panji Sakti (Abad ke-17): Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti, dikenal sangat toleran dan memberikan lahan serta perlindungan kepada umat Muslim, termasuk memberikan pintu gerbang untuk Masjid Agung Jami’.
• Desa Pegayaman (1648): Sekitar 100 laskar muslim dari Jawa,Madura dan Bugis ditempatkan di daerah perbukitan yang kini menjadi Desa Pegayaman oleh Raja Panji Sakti untuk menjaga keamanan. Warga di desa ini merupakan Muslim asli Bali yang masih menggunakan nama-nama Bali (Putu, Gede, Ketut).
• Pedagang dan Pelaut: Islam di Buleleng berkembang pesat di wilayah pesisir. Pelabuhan Pabean dan Sangsit menjadi tempat bermukimnya pedagang Muslim (Bugis, Melayu dan Madura) pada akhir abad ke-18. Pelabuhan Sumberkima kecamatan Gerokgak Buleleng Bali menjadi bukti sejarah masuknya Islam di Bali pada abad ke 18 dimana para pedagang dan pelaut dari Madura, Bugis dan Jawa tinggal disepanjang deretan pantai Sumberkima.
• Kampung Muslim: Kampung Muslim Buleleng juga berkembang di pesisir barat, seperti Sumberkima,Celukan Bawang dan Tukadmungga, terutama setelah kekalahan Makassar dari VOC (1667-1670).
• Bukti Peninggalan: Peninggalan sejarah Islam di Buleleng antara lain Masjid Agung Jami’ di Kampung Kajanan, Masjid Kuna Keramat, dan Masjid Safinatussalam, Masjid Jami’ Darussalam Pegametan Sumberkima.
Sejarah Islam di Buleleng menunjukkan akulturasi budaya yang kuat, di mana masyarakat Muslim setempat hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat Hindu.
Masuknya Islam di Buleleng, menurut laman Disbud Buleleng, dimulai sekitar tahun 1587, didukung oleh toleransi Raja Buleleng (Ida Anglurah Panji Sakti). Raja membantu memberikan
lahan dan membantu pembangunan Masjid Agung Jami’, salah satu masjid tertua di Bali. Umat Muslim ini berakar dari hubungan kebudayaan dan perdagangan di wilayah Buleleng.
Poin-Poin Penting Sejarah Islam di Buleleng:
• Awal Mula (1587): Umat Muslim masuk ke kawasan Denbukit (sebutan lama Buleleng) dan mulai berinteraksi dengan kekuasaan lokal.
• Peran Raja Panji Sakti: Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti, memberikan hibah tanah untuk tempat tinggal dan beribadah bagi komunitas Muslim, menunjukkan toleransi beragama yang tinggi.
• Peninggalan Penting: Bukti sejarah yang kuat adalah berdirinya Masjid Agung Jami’ Singaraja dan Masjid Kuna Keramat yang memiliki ornamen khas perpaduan budaya lokal dan Islam.
• Lokasi: Komunitas Muslim awal banyak berpusat di wilayah Kampung Kajanan dan sekitarnya, yang tumbuh menjadi pusat perdagangan di Bali Utara.
MASUKNYA ISLAM DI DESA SUMBERKIMA GEROKGAK BULELENG BALI
Masuknya Islam pertama di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali dimulai pada abad ke 15-16 M, berkaitan erat dengan sejarah perkampungan muslim di pesisir barat Bali, khususnya di Banjar Dinas Pegametan, Sumber Pao dan Mandarsari. Sumberkima dikenal memiliki tokoh-tokoh awal penyebar Islam yang diyakini sebagai pembuka hutan belantara di wilayah Pegametan Sumberkima.
Dusun Pegametan dan Sumber Pao adalah Pusat komunitas Muslim awal di Sumberkima. Adapun suku yang ada di desa Sumberkima adalah Suku Madura, Bugis dan Jawa yang menjadi perintis perkampungan di wilayah Sumberkima.
Masuknya Islam di Sumberkima merupakan bagian dari sejarah perkembangan Islam di kawasan Denbukit (Buleleng) yang sudah dimulai sejak akhir abad ke-15-16, tepatnya sekitar tahun 1587.
Masuknya Islam di pesisir Buleleng, termasuk Sumberkima, umumnya terjadi melalui jalur perdagangan dan interaksi penduduk local dengan pendatang dari luar Bali, seperti Madura, Bugis, Mandar, dan Jawa.
Masyarakat Muslim di Sumberkima, khususnya di Pegametan, memiliki tradisi keagamaan yang kental, seperti tradisi baca burdah, Sholawatan dan Hadrah yang diwariskan secara turun-temurun.
Dusun Pegametan, Sumber Pao, Mandarsari di desa Sumberkima saat ini menjadi salah satu bukti sejarah eksistensi Islam di Buleleng Barat yang berdampingan secara harmonis dengan masyarakat adat Hindu setempat.
Salah satu bukti Sejarah yang masih tetap berdiri sampai sekarang adalah keberadaan Masjid Darussalam Pegametan, Masjid Nurul Huda Sumber Pao dan Masjid di dusun Mandarsari yang sampai saat ini tetap eksis keberadaannya.
Tidak kalah pentingnya kehadiran Pondok Pesantren Nurun Najah Sumberkima yang didirikan oleh KH.Abdul Kipli dan sekarang diasuh oleh Dr.Drs.KH.Abu Siri,S.Ag,M.PdI sampai saat ini tetap memberikan layanan kepada masyarakat dalam keagamaan dan Pendidikan.
Sebagai wujud pelestarian sejarah, kunjungan dan simakrama (silaturahmi) antara pihak Puri Buleleng dan warga Muslim masih terus dijaga hingga saat ini untuk merajut kembali hubungan kekerabatan sejarah.
















